Aku bertemu denganmu, pagi itu. Aku harus memulai hari Seninku dengan semangat walau hati sedang carut-marut. Tubuhku masih ingin bergumul dengan kasur dan selimut. Sedangkan jam beker sudah berteriak-teriak di samping telingaku. Dua perintah yang berbeda, namun aku bisa mengatasinya.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Di saat aku harus cepat terjaga dari tidurku. Ya, hari Senin. Pengawal Minggu yang harus dilalui kebanyakan orang dengan perasaan yang sedikit kesal, bermalas-malasan, bebal, mengingat sehari sebelumnya adalah relaxing time.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Dari kamar kosan yang berukuran 3×3 meter, aku bisa mendengarkan dengan jelas teriakan klakson dari kendaraan yang sudah memenuhi jalanan macet Cilandak. Getaran-getaran mesin yang merambat dari jalan menuju tempatku berpijak. Senin yang indah. Mungkin seperti itu, Tuhan merencanakannya.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Kumulai hariku dengan bersiap-siap menuju tempatku praktek kerja lapangan. Udara pagi sebagian sudah bercampur dengan CO, CO2, SOx. Namun, aku masih bisa menikmati udara pagi, dengan sinar matahari yang terasa hangat menyentuh kulit. Aku tak takut dengan matahari, karena prospek kerjaku nantinya yang mengharuskan aku harus berteman dengan matahari.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Tuhan berkonspirasi, mengatur semuanya sehingga kita bisa bertemu di sebuah ruangan seluas 8×2 meter. Bukan sebuah pertemuan yang formal, sehingga aku tak harus menyiapkan diri sebelumnya.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Di suatu Senin di minggu kedua. Dengan campur tangan Tuhanlah kita bertatapan mata, tersenyum, dan menjabat tangan satu sama lain. Lalu kita memulai sebuah pembicaraan yang ringan, dengan aksen sedikit kikuk, namun kita saling menikmati waktu.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Tak akan pernah hilang dari ingatanku, lekuk bibirmu saat kau tersenyum kepadaku.
Aku bertemu denganmu, pagi itu. Pertemuan singkat yang terasa manis bagi kita.
Aku bertemu denganmu, pagi itu.
_cherlly_
